SABUROmedia, Ambon — Yayasan As-Salam Maluku menggelar Workshop Mutu Pendidikan yang diikuti oleh sekitar 200 guru dan pegawai dari seluruh unit pendidikan, mulai dari RA, SDIT, SMPIT hingga SMAIT As-Salam Maluku. Kegiatan berlangsung di Aula Yayasan As-Salam Maluku (MIT As-Salam Ambon) dan dimulai pukul 13.30 WIT.

Workshop tersebut dihadiri oleh Pengurus Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia, Direktur Yayasan As-Salam Maluku Drs. Moch. Fathoni, M.Pd, Sekretaris Yayasan As-Salam Maluku Abdullah Mewar, S.Pd, para kepala sekolah, serta seluruh sivitas pendidikan Yayasan As-Salam Maluku.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Yayasan As-Salam Maluku, Drs. Moch. Fathoni, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran guru sebagai sosok yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi teladan di tengah masyarakat.

“Menjadi guru bukan hanya menjalankan profesi, tetapi juga mengemban amanah untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Guru harus mampu menampilkan akhlak yang mulia serta menjaga kualitas ibadahnya, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat. Inilah karakter yang harus dimiliki oleh guru Sekolah Islam Terpadu,” ujar Fathoni.

Ia juga menyampaikan harapannya agar seluruh guru dan pegawai terus meningkatkan kompetensi dan kualitas diri demi kemajuan lembaga pendidikan As-Salam Maluku.

“Kami berharap di tangan para guru dan tenaga kependidikan yang hebat ini, lembaga pendidikan As-Salam Maluku dapat terus berkembang dan menjadi salah satu lembaga pendidikan terbaik di Maluku, yang melahirkan generasi berkarakter, berprestasi, dan berakhlak mulia,” tambahnya.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang Profil Guru Sekolah Islam Terpadu (SIT) oleh pemateri dari JSIT Indonesia.

Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa seorang guru SIT harus memiliki lima karakter utama, yaitu Mu’allim (pendidik dan pengajar), Mu’addib (pembina adab), Murabbi (pembina dan pengasuh), Musyrif (pembimbing dan pengarah), serta Mu’ain (pendamping dan pemberi dukungan).

Pemateri juga menjelaskan pentingnya penerapan Kode Etik Pendidik sebagai pedoman dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai guru.
“Kode etik pendidik bukan sekadar aturan tertulis, tetapi menjadi standar sikap dasar yang harus dimiliki oleh setiap pendidik.

Kode etik berfungsi untuk memotivasi dan mengingatkan guru agar senantiasa menjaga integritas, profesionalisme, dan keteladanan dalam setiap aktivitas pendidikan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa budaya sekolah yang positif harus dimulai dari para pendidik sebagai ujung tombak pendidikan.

“Sekolah yang unggul lahir dari budaya yang baik, dan budaya yang baik dimulai dari guru-gurunya. Ketika para pendidik menunjukkan akhlak, disiplin, dan semangat belajar yang tinggi, maka nilai-nilai tersebut akan tumbuh dan diwariskan kepada peserta didik,” ungkap pemateri.
Untuk menciptakan suasana yang lebih interaktif dan menyenangkan, workshop juga diisi dengan berbagai permainan edukatif (games) yang dipandu oleh pemateri.

Seluruh peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi kegiatan, yang tidak hanya memberikan wawasan baru tentang mutu pendidikan dan profil guru SIT, tetapi juga mempererat kebersamaan antar guru dan pegawai di lingkungan Yayasan As-Salam Maluku.

Pada hari kedua ini, workshop difokuskan pada Forum Group Discussion (FGD) yang melibatkan seluruh jenjang pendidikan, mulai dari RA As-Salam, MIT As-Salam, SMPIT As-Salam, hingga SMAIT As-Salam Ambon.

Setiap kelompok diskusi dipimpin oleh kepala sekolah masing-masing dengan pendampingan dan arahan langsung dari pemateri workshop.

Melalui kegiatan ini, Yayasan As-Salam Maluku berharap seluruh guru dan tenaga kependidikan semakin memahami peran strategisnya dalam membangun budaya mutu pendidikan serta memperkuat karakter sebagai pendidik Islam yang profesional, inspiratif, dan berintegritas.
Humas Yys As-Salam Maluku (SM)