Oleh  :

ZAINI CHOLIS., S,HI

 

SABUROmedia — Alhamdulillah Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024 telah dilaksanakan yaitu Pemilu Legislatif yang telah memilih para anggota dewan legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden  pada tanggal14 Februari 202 yang lalu. Pemilu Di Indonesia merupakan wujud dari kedaulatan rakyat terhadap hak-haknya untuk memilih para pejabat negara pada sistem pemerintahan di Indonesia. Pemilihan Umum adalah salah satu mekanisme demokrasi pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)  yang tercantum pada Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa rakyat memiliki kekuasaan (kedaulatan) yang tertinggi.

 

A. Di Tinjau Dalam Perspektif Hukum Pada UU 1945

Mekanisme terhadap penyerahan kedaulatan rakyat ini, akan dilakukan kepada wakilnya melalui Pemilu. Pemilu merupakan sarana dalam pelaksanaan kedaulatan rakyat tersebut untuk memilih wakil rakyat secara langsung untuk anggota lembaga negara, yaitu DPR, DPD, DPRD dan Presiden serta Wakil Presiden.  Meskipun saat saat ini terjadi banyak perubahan mari kita berdoa semuanya dapat menjadi yang terbaik.

Sebagai warga Negara Indonesia kita  telah menentukan hak pilih kita,  yang tujuannya adalah akan menentukan calon pemimpin bangsa  dalam lima tahun ke depan. Dan telah mengunakan hak pilih kita dengan benar dan tepat.

Pemilu adalah moment yang sangat penting yang menentukan perjalanan Bangsa kita di masa depan. Minimal perjalanan lima tahun ke depan ditentukan ketika Pemilu berlangsung. Jikalau pemimpin yang terpilih adalah orang yang salah maka kondisi bangsa kita akan semakin terpuruk, namun sebaliknya jikalau pemimpin terpilih adalah orang yang tepat maka bangsa ini akan semakin sejahtera. Posisi kepemimpinan sangat krusial bagi sebuah bangsa.

Kepemimpinan adalah hal yang sangat krusial. Maju mundurnya sebuah bangsa ditentukan oleh orang-orang yang duduk dalam kursi kepemimpinan. Sebuah bangsa bisa melewati krisis jikalau dipimpin oleh orang yang tepat. Sebuah bangsa bisa bertambah sejahtera jika pemimpinnya bekerja dengan sepenuh hati. Pemimpin memegang peranan yang sangat penting dalam sebuah organisasi apalagi sebuah bangsa. Pemilu yang kita selenggarakan menentukan pemimpin yang nantinya menentukan kebijakan bangsa ini. Mengusahakan kesejahteraan bangsa dimulai dengan ikut terlibat aktif dalam Pemilu dengan memilih calon pemimpin bangsa ini yang benar. Pastikan pemimpin yang dipilih adalah pemimpin yang dapat membawa bangsa ini ke dalam kondisi yang jauh lebih baik.

 

B. Di Tinjau Dalam Perspektif Islam

Dalam kajian Islam, banyak pendapat menyebutkan bahwa, seorang pemimpin mulai dari level bawah sampai atas, merupakan pilihan Allah SWT. Karena itu, apapun perbuatan yang salah dan keliru dari seorang pemimpin, dinilai wajar dan harus diterima apa adanya.

Menurut penulis, Pendapat tersebut tidaklah benar. Sebab, Allah Swt. tak pernah memilih orang yang tidak baik untuk dijadikan pemimpin. Sebaliknya, setiap pemimpin yang dipilih Allah SWT, sudah dijamin kebaikannya, setelah mengalami berbagai cobaan dari Allah Swt. Manusia tersebut adalah para Nabi dan Rasul serta keturunnya. Salah satunya adalah Nabi Ibrahim AS dan anaknya Nabi Ismail.AS.

“ ini yang harus kita pahami. Sebab, Allah SWT sudah mengatakan kepada Ibrahim; engkau orang pilihan, tetapi kalau ada yang menentangku, tidak menuruti apa yang Aku (Allah SWT) perintahkan dan tidak sesuai dengan apa yang engkau dakwahkan dan berjalan di atas jalan Allah. Maka, azab Allah amat sangat pedih.

Selama ini ada pemahaman yang keliru bahwa, setiap pemimpin dari level bawah hingga atas, merupakan pilihan Allah Swt., sehingga apabila pemimpin tersebut, berbuat salah dan seenaknya dalam memimpin bangsa, negeri dan daerah ini. Maka, dianggap sebagai bagian dari pilihan Allah Swt. Padahal, semua itu adalah keliru, karena menjadi pemimpin bagi manusia biasa, merupakan takdir dari Allah SWT, yang diberikan kepada siapa saja dan bisa dicabut kembali, kapan dan dimana saja. Dan, semua itu tak lepas dari takdir baik dan buruk yang ada pada dirinya.

Dalam Islam, terdapat dua jenis takdir, yaitu takdir yang disebut ” takdir muallaq ” dan takdir yang disebut ” takdir mubram “.

  1. Takdir Muallaq: Takdir muallaq adalah takdir yang masih dapat diubah atau dihapuskan oleh Allah SWT dengan kehendak-Nya. Takdir ini disebut muallaq karena masih “bergantung” pada tindakan manusia atau kejadian-kejadian yang belum terjadi di masa depan. Oleh karena itu, manusia memiliki peran aktif dalam menentukan takdir mereka sendiri melalui tindakan mereka.

Contohnya adalah Seorang warga Negara Indonesia yang memberikan hak suaranya untuk mendapatkan pemimpin yang baik dalam Pemilihan Umum (PEMILU). Meskipun takdir akhirnya telah ditetapkan oleh Allah SWT, namun tindakan usaha dari warga dapat mempengaruhi takdir tersebut.

Kemudian seorang pekerja yang bekerja keras dan berusaha mencapai target yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Meskipun takdir keberhasilan bisnis tersebut telah ditentukan oleh Allah SWT, namun tindakan pekerja itu dapat mempengaruhi takdir tersebut.

 

  1. Takdir Mubram: Takdir mubram adalah takdir yang sudah pasti dan tidak dapat diubah oleh manusia atau siapapun. Takdir ini disebut mubram karena sudah “pasti” dan sudah menjadi ketetapan Allah SWT.

Contohnya adalah  Kematian. Setiap manusia memiliki takdir mubram kematian, yang mana waktu dan tempat kematian telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Kemudin Hari Kiamat. Takdir mubram ini merupakan peristiwa besar yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai akhir dari dunia ini. Tidak ada manusia yang dapat mengubah takdir ini, karena sudah pasti dan tidak dapat diubah.

Sebaliknya, para nabi sebelum dan sesudah Nabi Ibrahim beserta keturunannya, bukanlah takdir, tapi memang pilihan Allah SWT. Mereka juga diberi kekuasaan.  Tapi, kekuasaan itu juga ada batasnya. Misal, tidak semua doa-doa Nabi Ibrahim dikabulkan Allah SWT.

Makanya, doa yang baik dan dikabulkan Allah SWT itu, sesuai Surat Al Baqarah ayat 126. Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali,” ulas Dr. Amir.

Itu sebabnya, Allah SWT tidak pernah memilih pemimpin yang jahat dan sewenang-wenang. Allah pasti memilih pemimpin yang baik, seperti Nabi Ibrahim beserta keturunannya, yang mengikuti jejak-jejak Nabi Ibrahim dan Nabi Besar Muhammad SAW.

Inilah pelajaran dari sosok Nabi Ibrahim. Pemimpin dunia yang memiliki kelebihan dan jiwa sosial tinggi. Jangankan menganiaya, menganggu  orang lain saja tidak pernah dilakukan. Berbeda dengan kehidupan dan pemimpin kita sehari-hari.

 

*** Penulis adalah PENYULUH AGAMA ISLAM KEMENAG BATAM – KETUA UMUM BKPRMI PROVINSI KEPRI – KETUA KOMISI EKONOMI DAN PEMBERDAYAAN UMMAT MUI KEPRI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *