Oleh :

Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy

 

SABUROmedia — Akhir-akhir ini saya perhatikan, animo remaja-remaja Maluku yang lanjut studi S-1 ke Perguruan Tinggi mulai berkurang. Dalam batin saya bertanya, ” mengapa ? “, tapi pertanyaan ini saya simpan di hati. Hingga suatu saat saya bertanya di depan kelas, ” Mengapa satu angkatan ini, laki-lakinya cuma dua orang ? “. Spontan mereka menjawab, ” Karena sebagian besar sudah pilih kerja di Weda, pak “. Oh… begitu.

 

Jawaban itu, bagi saya merupakan fenomena yang perlu ditelusuri lebih dalam. Apa penyebab utama sehingga remaja-remaja Maluku setelah lulus SMA lebih pilih kerja di Weda dibanding melanjutkan kuliah ke Universitas ? Apakah pilihan itu berangkat dari orientasi pribadi ? Ataukah memenuhi tuntutan situasional, karena kemiskinan misalnya ? Atau karena ikut ramai agar dipandang punya duit melimpah di masa muda ?

 

Ada tiga hal yang menurut saya menguatkan mentalitas remaja-remaja Maluku lebih pilih kerja di perusahaan Weda dibanding kuliah. Tiga hal ini tentu masih asumsi pribadi. Perlu dicek lagi kedepannya. Tiga hal tersebut adalah pertama karena tingkat kemiskinan. Kedua, terbius narasi-narasi kecil di tengah-tengah masyarakat tentang masa depan yang cerah apabila kerja di perusahaan karena buktinya sudah banyak. Ketiga, stigma tentang lulus kuliah itu tidak menjanjikan masa depan karena pengangguran S-1 sudah banyak.

 

Di Maluku, tingkat kemiskinan tampaknya masih naik-turun (fluktuatif). Data yang dikeluarkan BPS pada Maret 2023 memperlihatkan secara persentase, bahwa salah satu provinsi paling termiskin di Indonesia adalah Maluku sebesar 16,42 persen. Angka ini naik dari 0,19 persen pada September 2022 lalu. Meskipun miskin tapi salah satu provinsi paling bahagia di Indonesia adalah Maluku. ” Bahagia tapi miskin “, narasi kecil ini kerap digunakan para politisi Maluku setiap lima tahunan sekali.

 

” Kita butuh uang agar bisa kuliah. Ada uang supaya bisa bayar SPP, bikin tugas juga harus ada uang. Hidup di Ambon sini butuh uang. Nongkrong, duduk dengan teman-teman sambil diskusi, ini semua butuh uang”. Kebutuhan material untuk menopang proses perkuliahan merupakan faktor penting. Dalam bahasa Abraham Maslow, sebelum seseorang itu bisa menampilkan aktualisasi dirinya, dia harus memenuhi kebutuhan fisiologisnya terlebih dahulu.

 

Sementara remaja-remaja yang lanjut kuliah di Ambon — karena di pulau ini jumlah universitasnya lumayan banyak — justru berkebalikan dengan pendapat Maslow tersebut. Para remaja yang kuliah di pulau ini paling banyak berasal dari berbagai kabupaten/kota di Maluku seperti Tual, SBT, SBB, Malteng, Buru, Bursel, dan ada juga dari MBD. Saat saya tanya ke mereka secara acak, asal usul pekerjaan orang tua mereka, rata-rata menjawab, ” petani, nelayan “. Ada juga yang mengatakan orang tuanya bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu instansi tertentu, dan paling sedikit adalah PNS.

 

Bagaimana penghasilan orang tua mereka ? Belum cukup. Bagaimana bisa kuliah ditengah kondisi ekonomi keluarga miskin ? Bagi beberapa orang, kondisi kemiskinan tidak menjadi tolak ukur seorang remaja gagal lanjut kuliah. Buktinya sudah banyak. Ada anak tukang becak bisa kuliah dengan beasiswa di fakultas kedokteran. Sekilas itu luar biasa. Syarat melamar beasiswa harus punya prestasi. Ditengah kemiskinan, seorang remaja dituntut harus berprestasi agar suatu saat bisa melamar beasiswa di kemudian hari. Ini sudah miskin, terus harus berprestasi lagi. Luar biasa.

 

Apakah fenomena kemiskinan itu yang mengakibatkan remaja-remaja Maluku belakangan ini lebih pilih kerja di Weda dibanding kuliahn ? Untuk sementara, pertanyaan ini saya simpan sebagai bahan refleksi bersama. Selain tingkat kemiskinan, faktor yang memicu seorang remaja kemungkinan lebih pilih kerja di Weda dibanding kuliah adalah terbius narasi-narasi kecil tentang masa depan yang lebih menjanjikan apabila kerja di perusahaan.

 

Saya pernah mendengar, cerita tentang seorang mama-mama menelpon anaknya yang bekerja di perusahaan Weda. Waktu itu, mama ini sangat butuh uang untuk renovasi rumah mereka di kampung. Mama itu lalu menelpon anaknya. Menjelaskan banyak hal. Selang beberapa menit ketika mama itu menutup telponnya, tiba-tiba ada telpon balik dari anaknya di Weda. Kata anaknya lewat telpon, “Sudah mama, saya sudah transfer 10-an juta ke rekening mama (kalau tidak salah) “.

 

Spontan mama itu kaget. Tanpa menunggu lama, bagaikan air yang mengalir dari hulu ke hilir dengan cepat, informasi tentang seorang mama yang ditransfer anaknya dari Weda itupun tersebar ke tengah-tengah masyarakat. Selang beberapa bulan kemudian, arus calon pekerja dari Maluku pun membanjiri daerah Weda. Tak sedikit yang kerja di Weda melaporkan tentang besarnya angka upah dan lain sebagainya. Informasi ini menjadi narasi² kecil kemudian bergulir di tengah² masyarakat tentang masa depan yang cerah apabila kerja di perusahaan Weda.

 

Apakah narasi-narasi kecil seperti itu yang membius remaja-remaja Maluku lebih pilih kerja di Weda dibanding kuliah ? Sekali lagi, pertanyaan ini juga saya simpan sebagai bahan refleksi bersama kedepannya. Tingkat kemiskinan dan narasi-narasi kecil tersebut semakin diperkuat juga oleh fakta tentang keberadaan lulusan-lulusan sarjana yang nganggur selama beberapa bulan bahkan tahun pasca lulus. Dalam lirik lagu Iwan Fals bernyanyi, ” Engkau sarjana muda, resah mencari kerja, mengandalkan ijazahmu. Empat tahun lamanya, bergelut dengan buku, sia-sia semuanya “.

 

Fakta tentang lulusan yang banyak nganggur ini perlu juga di di cari apa akar masalahnya ? Dalam pidato Prof. Al-Makin, Rektor UIN Sunan Kalijaga, mengatakan bahwa pendidikan itu pencarian. Selama Anda kuliah, lulus dengan predikat cumlaude itu memang penting. Tapi di atas semua itu, yang paling penting lagi adalah Anda tidak boleh menyakiti orang lain. Jika Anda suka menyakiti orang lain, Anda akan hilang persahabatan. Hilang pertemanan. Di masa depan, yang paling menentukan Anda sukses atau tidak pasca lulus S-1 adalah tergantung kemampuan Anda memelihara hubungan persahabatan yang baik. Tidak boleh saling menyakiti. Ingat, tidak boleh.

 

Sekilas dalam pidato itu, sangat menjanjikan tentang masa depan karir lulusan S1. Tapi, jika faktanya bahwa masih banyak yang menganggur, berarti perlu di telusuri lebih dalam lagi apa akar masalah utamanya. Fakta tentang banyak lulusan S1 yang nganggur, ini turut merekonstruksi sitgma bahwa kuliah itu tidak penting. Yang lebih penting adalah langsung kerja saja. Apakah fakta dan stigma tsb yang membuat para remaja di Maluku lebih pilih kerja di Weda dibanding kuliah? Sekali lagi, pertanyaan terakhir ini juga saya jadikan refleksi bersama kedepannya.

 

*** Penulis adalah Akademisi dan Peneliti di Pusat Studi Masyarakat Kepulauan IAIN Ambon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *