SABUROmedia, Ambon – Menutupi rangkaian materi LK-II tingkat Nasional Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ambon, Saleh Wattiheluw SE. MM mantan ketua umum HMI cabang Ambon periode 1983-1984 sampaikan materi tentang “Mission HMI”.

Wattiheluw dalam materinya  menjelaskan bahwa  Himpunan Mahasiswa Islam yang lahir pada 5 Februari 1947 itu dilatar belakangi oleh kondisi NKRI. Di masa itu yang masih menjalani perang dingin dengan PKI dan juga gangguan dari bangsa barat lainnya.”ucapnya pada Selasa 08 Maret 2021 kemarin.

Bukan hanya itu, HMI juga didirikan karena Prof. Lafran Pane dan Kawan-kawannya melihat kondisi umat Islam yang mengalami inflasi dalam aktivitas sosial maupun aktivitas spritual. Dua hal inilah yang menjadi indikator penting menurut para founden Father untuk mendirikan HMI sebagai wadah yang mempersatukan mahasiswa Islam di Indonesia untuk berjuang dengan satu tujuan.”jelas mantan ketua umum HMI cabang Ambon periode 1983-1984.

Dua perihal di atas menjadi tujuan pertama yang sahkan sebagai tujuan arah atau petunjuk dalam menjalankan roda pemerintahan organisasi. Pada kongres ke 10 di Palembang barulah tujuan HMI yang yang digunakan sekarang ini disahkan.

Tujuan terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT adalah tujuan yang memiliki tafsir paling komplit dalam budaya intelektual HMI dan selalu relevan dengan zaman Hinggan kini.”punkasnya

Selain itu mantan ketua cabang HMI ini menjelaskan tentang tafsir independensi HMI,

Kata Dia, tafsir independensi HMI yang di belah dua yaitu etis independensi dan independensi organisasi. Dua tafsir ini dalam penjelasan intelektualnya adalah perpaduan utuh untuk seorang kader dalam mengemban tugas sebagai kader umat dan kader bangsa,

“Dua tafsir ini juga berfungsi sebagai disposesi dalam kehidupan sehari-hari seorang kader untuk memposisikan diri sebagai warga negara dengan segala hak dan kewajibannya dan sebagai kader HMI dengan segala tugas dan tanggungjawabnya.”imbahnya

Sementara itu pesan morilnya adalah, sebagai kader HMI yang berintelektual, dengan budaya-budayanya yang cenderung dialektik, objektif, rasional, kritis dan sistematis serta universal dalam berargumentasi dalam mengawal pemerintah untuk mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia. Juga dalam hal dialektika history Islam dan NKRI sendiri serta kondisi geopolitik dan ekopol di dunia internasional.

“HMI adalah organisasi yang razaskan islam, tetapi selalu inklusif dalam menerima dan menela’ah  pergolakan pemikiran. Olehnya itu seorang kader HMI haruslah cenderung kepada kebenaran atau Hanief serta selalu memperjuangkan keadilan dan melawan kemungkaran.”pesan Ketua umum HMI cab Ambon periode 1983-1984. (SM-Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *