Oleh : Fajrin Rumalutur

SABUROmedia, Bula – Tidak berlebihan jika banyak orang mengatakan bahwa pendopo yang merupakan kediaman bagi bupati kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) telah beralih fungsi secara total menjadi “kantor kedua”(the second office) bagi bupati Abdul Mukti Keliobas.

Betapa tidak, saban hari tempat ini selalu ramai dikunjungi warga masyarakat yang datang dari berbagai penjuru wilayah di negri bertajuk ita wotu nusa itu. Mereka umumnya datang dengan berbagai macam keperluan, mulai dari urusan formal pemerintahan, menyampaikan aspirasi masyarakat desa, curhat, hingga sekedar datang untuk bertemu dan berbincang-bincang bersama bupati.

Pemandangan semacam ini tentu tidak biasa, karena dimasa-masa sebelumnya tempat ini tidak dapat dimasuki sembarangan oleh masyarakat. hanya tamu-tamu penting dengan keperluan yang jelas saja yang dapat diperbolehkan untuk masuk kedalam lingkungan pendopo.

Mungkin lebih dari seratus orang tamu setiap harinya datang ke pandopo menemui pak bupati. beberapa hari lalu saya sendiri pernah iseng dan coba-coba menghitung jumlah tamu yang datang, jumlahnya hampir mencapai dua ratusan orang. hebatnya lagi, semua dari mereka diterima dan dilayani satu persatu oleh pak bupati.

Kadang bupati baru bisa selesai melayani tamunya hingga larut malam. bahkan diakhir pekan dimana waktu senggang tersebut dapat digunakan untuk beristirahan dan membagi waktu bersama keluarga, pun akhirnya terpakai untuk melayani kepentingan masyarakat.

Tentunya situasi seperti itu sangat menyita waktu, energi, dan tenaga. namun bagi bupati yang juga Raja Amarsekaru itu memimpin adalah seni untuk melayani (the art of serving). baginnya setiap waktu adalah momentum untuk mengabdikan diri, itulah resiko sebagai seorang pemimpin, tegasnya! Prinsip kepemimpinan yg terbuka dan merangkul semua pihak inilah yang terus dipengang oleh MK sejak kecil hingga tumbuh menjadi dewasa. Lingkungan masa kecil yang demokratis dan inklusif ikut membentuk karakter kepemimpinanya yang kuat dan selalu ingin dekat dengan rakyat.

Baginya Pandopo harus menjadi rumah rakyat yang sesungguhnya, tempat bagi setiap orang untuk menyampaikan aspirasi, pikiran, partisipasi, dan kehendak-kehendak kolektif mereka. pandopo tak bisa menjadi istana yg berjarak dari radius kepentingan publik.

Pandopo mesti menjadi arena pertemuan antara pemimpin dan yang dipimpin, dimana pikiran dan gagasan bersama dipertautkan, rencana-rencana disusun, gagasan disampaikan dengan lantang untuk mewujudkan kabupaten Seram bagian timur yang berkemajuan.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *